Advertisement
![]() |
Kulintang Rejang di MIN Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu |
Oleh: Adhyra Irianto
Ketika melanjutkan kuliah di Pascasarjana ISBI Bandung, saya baru menyadari bahwa musik bambu dan musik karawitan dibedakan di kampus seni satu ini. Alat musik bambu, seperti angklung dan sebagainya, memiliki karakteristik bunyi yang sangat berbeda dengan alat musik berbahan logam seperti gamelan. Namun, yang menarik adalah catatan sejarah menyatakan bahwa ada banyak alat musik yang dulunya berbahan bambu, lalu berganti menjadi logam.
Pembicaraan ini akan langsung saya spesifikkan ke kulintang Rejang. Alat musik ini, tercatat di Dapobas (Data Pokok Kebahasaan dan Kesastraan) Kemdikbud RI sebagai pengiring dari Tari Kejei. Awalnya, alat ini dibuat dari bahan bambu. Kemudian, saat para bikeu/biku (biksu) dari Majapahit datang ke Tanah Rejang, maka alat-alat ini berubah menjadi logam dan dibuat seperti gamelan di Jawa.
Tapi, kita lewatkan dulu bagian ini, karena masalah "bikeu" ini adalah kajian yang berbeda dengan apa yang akan dibahas di tulisan ini.
Masalah utama yang membuat saya "gelisah" adalah, ketika saya mendengarkan berkali-kali musik kulintang Rejang dari sanggar yang berbeda. Saat itu, saya menyadari bahwa "setelan" setiap kulintang ternyata berbeda-beda.
Bila Anda belum menyadarinya, mari kita melihat bersama-sama sampel lima video permainan kulintang Rejang, yang sama-sama ditujukan untuk pengiring Tari persembahan.
Video I:
Bisa dilihat pada video pertama, setelan untuk 5 buah kenong di Kulintang ini adalah:
C - D# - F - G# - A#
Video II:
Pada video kedua ini, setelan kulintangnya adalah: C# - E - F# -G# - C
Video III:
Pada video di atas, not lima kenong di kulintang tersebut adalah: C - E# - F - G# - C#
Video IV:
Sedangkan pada video di atas, bisa didengarkan bahwa lima kenongnya berada di not: C- D- F - G - A#
Apa yang bisa saya temukan, dan saya simpulkan adalah: Kulintang Rejang tidak punya setelan yang baku!
Dan, percayalah, masing-masing sanggar atau pemilik alat musik tersebut pasti akan mengklaim bahwa setelan mereka yang paling tepat. Ini sudah tahun 2025, dan setelan kulintang yang cuma punya 5 kenong saja masih berbeda-beda?
Berarti, perlu dilakukan rekonstruksi ulang untuk ontologis kulintang Rejang. Saya mencoba untuk memberi masukan lewat sejumlah narasi historis.
Berdasarkan Catatan A.L Van Hasselt (Dalam Veth, 1881)
Untuk pertama, mari kita sama-sama membuka catatan dari sebuah pelayaran dan penelitian ekspedisi Sumatera di tahun 1877-1879, yang dicatat oleh para anggota ekspedisi di bawah pengawasan Prof. P.J Veth. Buku ini ditulis ole A.L Van Hasselt yang menjadi pemimpin ekspedisi tersebut.
Bab ke 4 buku tersebut, dimulai dari halaman 99, membahas tentang persepsi estetis, musik, alat musik, permainan tradisional, dan hewan peliharaan (Kunstzin, Muziek en muziekinstrumenten, Spelen, Dierengerecbten) yang tentunya menjadi salah satu bahan utama dari artikel ini. Kita akan khususkan pembicaraan ke instrumen musik (tentang seni teater dan lainnya di sekitaran Rejang akan saya bahas di artikel yang lain).
Di Balai Desa Lesung Batu, salah satu desa di Rawas Ulu, Musirawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan, rombongan Hasselt menemukan "gamelan" dengan kenong berjumlah 2 kali lebih banyak daripada talempong Minang. Inilah kulintang Lembak yang dimainkan oleh dua orang. Tongkat yang digunakan sebagai pemukul adalah tongkat sepanjang 30 cm.
Tidak begitu jauh dari desa tersebut, warga menggunakan alat lain yang bentuknya mirip demung. Meski dimainkan dengan nada yang sama, serta untuk acara yang sama, ternyata perbedaan utama dari milik masyarakat dan milik desa tadi adalah bahan pembuatannya.
Alat yang mirip demung di Jawa milik masyarakat tadi berbahan bambu atau kayu, baik penopang maupun bilah-bilahnya. Sedangkan alat musik yang berada di balai desa terbuat dari bahan logam, yakni tembaga (Hasselt, 1881, hal. 110). Penyebabnya, karena bahan bambu/kayu yang digunakan sebagai bahan utama pembuat alat musik memiliki suara yang lebih kecil atau tidak terlalu nyaring, namun proporsi nada yang dihasilkan lebih cermat bila dibandingkan dengan kenong melayu pada umumnya. Alat ini ditulis oleh Hasselt dengan nama Kelèntang (Kelintang). Dari daerah sekitaran Sarolangun ini, kita bisa mengikuti perjalanan mereka hingga ke beberapa wilayah di Lebong.
"At te Kóta-Danau in Lebong uit een talemong waarvan twee tjenong’s gescheurd waren, een goeng en een rabanó. Ook in de balai te Oedjoeng-Tandjoeng waren van het speeltuig twee tjenong’s gebarsten, terwijl ’t niet bleek of zij soms met yoorbedachten rade in een toestand gebracht waren die hen zulk een doordringend kletterend geluid deed maken" (ibid, hal. 111).
Di Kota-Danau (Kota Dono) Lebong, ada sebuah talemong (Talempong atau Kulintang) dengan dua kenong yang retak, gong, dan rebana. Kemudian di Ujung Tanjung, dua kenong juga retak, sehingga belum jelas apakah retak tersebut disengaja atau tidak. Karena suara yang dihadirkan akan menghadirkan suara gemerinting, yang cukup menusuk telinga.
![]() |
Gamolan Pekhing asal Liwa, Lampung Barat |
Dari pemaparan di atas, juga dengan perbandingan dengan peralatan yang ada dibuat berbahan bambu, sebenarnya cikal bakal kulintang Rejang ini mirip dengan Gamolan Pekhing dari Lampung Barat, Liwa. Secara geografis, wilayah Liwa, Lampung Barat ini berbatasan langsung dengan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Sekarang, apa alat musik di OKU Selatan tersebut?
Yah, sudah bisa ditebak. Kulintang!
![]() |
Kulintang OKU Selatan |
Hubungan Liwa - OKU, hingga Rejang
Dan OKU Selatan juga mewarisi budaya sekitaran Danau Ranau, sehingga Siger (hiasan kepala) perempuannya mirip dengan yang ada di Lampung Barat. Danau Ranau menjadi saksi berdirinya kepaksian Sekala Brak yang diakui sebagai cikal bakal etnis Lampung (William Marsden, 1779). Sejumlah penelitian dan tafsiran dari ahli purbakala lainnya, Groenevelt, L.C.Westernenk dan Hellfich membenarkan pernyataan tersebut.
Kepaksian Sekala Brak, didirikan oleh empat orang Umpu, di sekitaran Danau Ranau, dan di kaki Gunung Pesagi. Saya, sebagai orang Rejang, dan tinggal di Curup, tentu merasa cukup familiar dengan plot ini. Bisa Anda bayangkan, empat orang Umpu, menetap di suatu tempat yang berada di pinggir wilayah perairan dan di kaki sebuah gunung lalu mendirikan sebuah daerah, yang sekarang kita kenal sebagai Liwa.
Bila Anda orang di luar Provinsi Bengkulu, mari saya perkenalkan sedikit "tambo" suku Rejang. Ada daerah bernama Renah Sekalawi, didirikan oleh empat orang "Biku", di sekitaran wilayah sungai dan kaki perbukitan.
Wilayah Kepaksian Sekala Brak menjadi sebuah wilayah independen, sebelum akhirnya dikuasai Sriwijaya pada abad ke-7, dibuktikan lewat Prasasti Sriwijaya di Lampung. Lalu, abad ke-12 dikuasai Singosari, lewat Ekspedisi Pamalayu. Abad ke-13 dikuasai Majapahit (disebut dalam Kitab Negara Kertagama).
Abad ke-16 wilayah ini dikuasai Pagaruyung yang membagi wilayah kepaksian Sekala Brak menjadi 4 wilayah. Abad ke-18, wilayah ini dikuasai VOC.
Dari lini masa ini, bisa dilihat bahwa abad ke-12, pengaruh Jawa masuk ke Sekala Brak yang memungkinkan alat musik yang tadinya terbuat dari kayu/bambu, berubah menjadi logam.
Mari kita lihat video Tari Batin dari Liwa (yang merupakan tari yang disakralkan di daerah tersebut), serta Tari Haghak Batin dari OKU Selatan yang juga menjadi tari yang disakralkan di daerah tersebut. Tari-tarian ini diiringi oleh musik Kulintang.
Tari Haghak Batin dari OKU Selatan
Tari Sembah Batin dari Liwa, Lampung Barat
Bisa dilihat dari dua video tersebut, bahwa kulintang di OKU Selatan (Provinsi Sumatera Selatan) dan Lampung Barat (Provinsi Lampung), memiliki jumlah kenong yang jauh lebih banyak, yakni sekitar 12 hingga 14 kenong. Jumlah tersebut dua kali lebih banyak daripada kenong yang ada di kulintang Rejang.
Sedikit mengulang hasil temuan Hasselt di atas, kulintang yang ada di sekitaran Musirawas (Sumsel), Sarolangun (Jambi), dan Lembak memiliki jumlah kenong 2 kali lebih banyak daripada talempong.
Pengaruh dari Sekala Brak (Liwa), alias peradaban Danau Ranau itu memengaruhi wilayah Sumatera Tengah lainnya. Maka bisa disimpulkan seperti ini, ketika budaya "logam" dari Jawa masuk (Singasari menguasai Liwa) maka saat itu sekitaran Sumatera Tengah juga terpengaruh dengan kedatangan alat musik baru dari logam curah ini di abad ke-12.
Kulintang Rejang Tidak Dikaitkan dengan Liwa?
Sedikit cerita tentang Kulintang Rejang, mengutip dari situs Dapobas Kemendikbud (sekarang Kemendikdasmen), disebutkan seorang bernama Hassanudin Al Pasee dilaporkan pernah datang ke Tanah Rejang pada tahun 1468 (abad ke-15). Juga ada nama Fhatahilah Al Pasee yang datang ke Tanah Rejang saat pernikahan Putri Senggang dengan Biku Bermano pada tahun 1532 (abad ke-16), dan melihat acara Bekejei. Di acara itu, ada tari Kejei yang diiringi oleh orkestra gamelan yang terdiri dari Kulintang, gendang, gong, dan suling.
Pasee yang disebut di atas tentunya merujuk pada Pasai, sebuah wilayah di Aceh yang sempat menjadi sebuah kerajaan fenomenal, Samudera Pasai. Fatahilah Al Pasee kemungkinan besar merujuk ke nama Sultan Cirebon, yang terkenal karena menaklukkan Sunda Kelapa tahun 1527 kemudian mengubahnya menjadi Jayakarta. Nama lain dari Fatahila Al Pase adalah Tubagus Pasee, yang merupakan orang yang berasal dari Pasai, menurut Joao de Barros dalam bukunya yang terkenal berjudul Decadas da Asia.
Ini sedikit membuktikan bahwa abad ke-16, peralatan musik di Rejang sudah menjadi logam. Dan, dilihat dari linimasa tadi, kemungkinan alat logam dari Jawa memengaruhi Liwa adalah sekitar abad ke-12.
Jadi, sangat aneh bagi saya, bila tidak mengaitkan antara musik dari kebudayaan Rejang dengan Sekala Brak di Liwa. Sedangkan, Liwa dan OKU, begitu kuat memengaruhi musik-musik di Sumatera Tengah lainnya. Perlu dicatat bahwa Margaret J. Kartomi, peneliti asal Monash University, menyatakan bahwa Gamolan Pekhing yang ada di Lampung berusia lebih tua ribuan tahun daripada gamelan yang ada di Jawa (Monash, 2011). Gamolan Pekhing memiliki ciri khusus, yakni tidak ada nada Fa (4) dalam susunannya (Sumerta, 2012).
Sekarang, bagaimana susunan nada Kulintang di Lebong? Mari kita lihat nada Kulintang yang terdengar oleh Hasselt dan disusunnya di bukunya.
Berikut kutipan dari teks yang ada gambar tersebut:
Een gandang katjije (PI. XL fig. 5)3) wordt vervaardigd van nangka- of tjoebadaq-hout, is aan beide zijden met geitenvel bespannen en wordt op dezelfde wijze ais de rabanćfs, maar aan beide zijden tegelijk, met de handen geslagen. Of de gan- dang’s die wij aantroffen, door vele dienstjaren klankloos geworden waren, of dat zij van de jeugd af zulk een dof geluid voortbraehten, — wij weten het niet, maar onbeteekehend was hun klankgevend vermogen.
Er bestaat nog een gandang die dubbel zoo groot is ais de gandang katjije, en die met een rótan-stokje geslagen wordt.
Keeren wij thans naar onzen optocht terug; de beide tjenong’s verschilden vrij zuiver een kwint en met hun vieren deden de spelers iets hooren dat men aldus zou kunnen neerschrijven:
Translasi sederhana:
Sebuah gendang kaciye terbuat dari kayu nangka atau cubadaq. Ditutupi dengan kulit kambing di kedua sisinya, lalu dipukul dengan cara yang sama dengan rebana tapi di kedua sisi secara bersamaan. Apakah sejak kami temukan gendang itu memang sudah berusia lama atau memang suaranya yang lebih tumpul, kami tidak tahu pasti. Kemampuan mereka untuk menghasilkan suara juga tidak diketahui pasti.
Ada satu gendang lagi yang lebih besar dari gandang tersebut dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat rotan.
Kita kembali ke prosesi kita, ada dua kenong yang berbeda, dimainkan dengan nada yang bisa dituliskan sebagai berikut:
Maka kita melihat bahwa Hasselt hanya menuliskan not 5 (sol) dan 3 (mi) kenong tersebut. Satu kenong di nada sol, dan satu lagi di nada mi.
Notasi melodi
Selain itu, Hasselt juga menemukan melodi lain yang menurutnya "bukan notasi melayu ala Malaysia" dan sangat khas ditemukan di Sumatera Tengah, utamanya sekitaran Musi Rawas. Dengan dugaan, musik seperti itu juga yang ditemukan oleh Hasselt di Lebong. Mari kita lihat notasinya:
Hasselt bahkan mengatakan bahwa notasi tersebut "maar ais een proeve van wat op Midden-Sumatra de toekomstmuziek zal kunnen worden" (yang saya kira/rasa akan menjadi musik masa depan di Sumatera Tengah nantinya).
Kenon Retak untuk Bunyi Unik
Ini juga yang menjadi alasan kenapa kenong terakhir yang bernada paling tinggi, cukup sulit dideteksi notasi aslinya. Seperti di video di atas, dua video menunjukkan kenong terakhir bernada A#, satu video di nada B, dan satunya lagi di nada C#.
Tapi, hasil obrolan saya dengan rekan yang merupakan pengusaha alat musik logam di Bandung menghasilkan kesimpulan bahwa, kulintang Rejang yang merupakan transformasi dari bambu, menggunakan bahan kuningan, bukan perunggu. Hasselt hanya menulis "tembaga", sedangkan kuningan adalah tembaga + seng (dan beberapa logam lainnya), dan Perunggu adalah tembaga + timah.
Kesimpulan pertama, dan mungkin masih bersifat spekulatif: not dalam kulintang setidaknya ada 3 (mi) dan 5(sol). Serta, semestinya cukup mirip dengan setelan dari kulintang di Liwa dan Oku. Dan bisa digunakan untuk mengiringi melodi yang direkam oleh catatan sejarah tersebut.
Yah, ini adalah artikel pertama dari bahasan yang mungkin akan lebih panjang. Tentunya, mesti ada aturan normatif tentang kulintang Rejang, mulai dari paduan bahan pembuatnya, sampai pelarasan/penyeteman setiap kenongnya. Bila Anda punya tanggapan atau komentar pada artikel ini, atau mungkin punya argumen lainnya, silahkan kontak PojokSeni baik lewat email (redaksi@pojokseni.com), maupun lewat media sosialnya Instagram: Pojok.seni dan Facebook page: Pojok Seni.
Bibliografi:
- Barros, J. de. (1777). Da Asia De Joāo De Barros: Dos Feitos, Que Os Portuguezes Fizeram No Descubrimento, E Conquista Dos Mares, E Terras Do Oriente. Decada Quarta. Parte Primeira (Bagian IV). Na Regia Officina Typografica.
- Badan Bahasa, B. P. D. P. B. (n.d.). Tari Kejei. https://dapobas.kemdikbud.go.id/home?show=isidata&id=935
- Marsden, W., Sutrisno, & Wijayanti, D. (2016). Sejarah Sumatera. Penerbit Indoliterasi.
- Monash University. (2011). Gamolan and its significance [Webpage]. Retrieved 10
- February 2022, from https://www.monash.edu/news/articles/gamolan-and-itssignificance
- Sumerta D. A., I. W. (2012). Gamolan pekhing: Musik bambu dari Sekala Berak. (C.H. Cahyo Saputro,Ed.). Bandar Lampung: Sekelek Institute Publishing House.
- Veth, P. J. (1881). Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der sumatra-expeditie. E.J. Brill.