Advertisement
![]() |
Pentas Mata Sunyi oleh Kanti Becakap (foto: Danang Kurnianto) |
Oleh: Aldo Almudafa Al- Banjari*
Panggung berupa kerangka abstrak yang membentuk persegi berwarna putih yang dibilit oleh kain merah panjang. Setiap ujung kain menutup mata dua tokoh yang duduk saling membelakangi di atas kursi yang miring. Di lantai, berserakan kertas berwarna putih yang hampir memenuhi seluruh area permainan.
Pertunjukan dibuka dengan suara gemuruh hujan dan petir, kemudian dilanjutkan dengan nyanyian yang diiringi oleh suara piano dan biola. Tokoh perempuan membuka cerita dengan penggalan puisi dari Octavio Paz yang berjudul Epitaph Penyair:
“Dia mencoba bernyanyi, bernyanyi untuk melupakan
Kenyataan hidupnya yang dusta dan untuk mengingat
kehidupan dustanya yang nyata”
Tokoh perempuan (diperankan Salira) membaca puisi dengan melemparkan kertas-kertas kosong. Tokoh lelaki (diperankan Rahmat) meresponnya dengan cara merobek setiap kertas yang ada di sekitarnya. Peristiwa tersebut berulang kali hadir di sela-sela percakapan dialog dalam tempo yang lambat. Ditambah dengan gerak aktor yang minim dan tidak ada perubahan adegan yang dinamis membuat pertunjukan ini berhasil menghadirkan dan membagi kesunyian yang dirasakan oleh tokoh kepada penoton. Saya sebagai penonton hampir terjerumus seutuhnya ke dalam kesunyian yang dihadirkan di atas panggung.
Namun, intensitas emosi pertunjukan perlahan naik dan begitu riuh hingga akhir. Pada puncaknya, tokoh perempuan dan tokoh lelaki terikat satu sama lain oleh kain merah yang menutupi matanya. Penonton disuguhkan perdebatan yang keras tentang persoalan yang dialami oleh sepasang suami istri. Saya merasa pertunjukan ini mengingatkan saya bagaimana rasanya naik Roller coaster yang tiba-tiba menajak dan tiba-tiba meluncur cepat. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan ketika menyaksikan pertunjukan teater “Mata Sunyi” Produksi Kanti Becakap.
Teater “Mata Sunyi” persembahan Kanti Becakap merupakan tafsir ulang atas teks drama Marhalim Zainin. Sutradara dalam pertunjukan ini mengatakan bahwa Kanti Becakap mencoba mendekonstruksikan visi dramatik dari “Mata Sunyi” karya Marhalim Zaini. Salah satu premis yang dihadirkan adalah merubah kebutaan fisik menjadi kebutaan filosofis untuk menjangkau spektrum simbol yang lebih luas.
![]() |
Pentas Mata Sunyi oleh Kanti Becakap (foto: Danang Kurnianto) |
Saya sebenarnya belum pernah membaca drama “Mata Sunyi” karya Marhalim Zaini, tetapi setelah pertunjukan saya mencoba memastikan apakah perubahan yang dilakukan oleh Kanti Becakap begitu signifikan atau hanya mementaskan drama ke atas panggung. Ternyata, setelah saya dalami teks aslinya, saya seperti melihat dua karya yang benar-benar berbeda. Saya kira, pertunjukan teater seharusnya tidak terjebak hanya pada upaya penghadiran drama ke atas panggung, tetapi lebih jauh dari pada itu. Bagaimana karya baru lahir dan bertumbuh dari karya-karya yang sudah ada.
Kerja kreatif yang dilakukan oleh Kanti Becakap membuka mata saya tentang pertunjukan teater. Awalnya saya mengira teater adalah seni memanggungkan karya sastra, namun setelah melihat karya “Mata Sunyi” saya kira teater mampu bergerak lebih jauh dari pada itu. Akhirnya, mata saya benar-benar terbuka akan kerja teater dan ironisnya, mata itu terbuka melalui pertunjukan tentang orang yang buta.
Sutradaranya juga menjelaskan bahwa karya ini telah diuji publik sebanyak 3 kali dan akan terus berproses untuk mengeksplorasi berbagai capaian artistik lainnya. Artinya, karya yang saya saksikan malam merupakan salah satu fragmen dari perjalan karya yang masih terus berjalan. Semoga saya dapat melihat perkembangan karyanya di kemudian hari dan tentunya bisa menggetarkan hati saya seperti sebelumnya. Salut untuk Kanti Bacakap dan Hat off untuk sutradaranya, Bapak Ikhsan Satria Irianto. Ditunggu karya-karya yang lainnya. Semoga Kanti Becakap selalu produktif, kreatif dan dialektis.
*Penulis adalah Mahasiswa jurusan Sendratasik Universitas Jambi