Tips Mendesain Logo Grup Seni, Berdasar Logo Kementerian PU -->
close
Pojok Seni
25 February 2023, 2/25/2023 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2023-02-26T06:59:48Z
ArtikelBeritaUlasan

Tips Mendesain Logo Grup Seni, Berdasar Logo Kementerian PU

Advertisement
Logo Teater Senyawa, desain oleh M Adli
Logo Teater Senyawa, desain oleh M Adli

Pojok Seni - Logo semacam sebuah pengenal visual yang menjadi wajah bagi sebuah brand. Karena itu, keperluan terhadap logo menjadi sangat penting. Logo akan merepresentasikan nilai-nilai filosofis, visi, dan misi sebuah perusahaan atau komunitas.


Grup-grup teater juga memiliki logo, beberapa di antaranya juga cukup ikonik. Sama seperti pada brand, atau perusahaan, logo dari grup teater akan memudahkan grup untuk memperkenalkan dirinya pada publik. Lihat logo beberapa grup teater di bawah ini.


Logo Teater Garasi
Logo Teater Garasi

Logo Komunitas Seni Nan Tumpah
Logo Komunitas Seni Nan Tumpah

Logo Teater Koma
Logo Teater Koma

Logo Teater Keliling
Logo Teater Keliling

Logo Teater Satu
Logo Teater Satu

Logo-logo di atas didesain untuk mencerminkan visi, dan nilai filosofis dari sebuah grup teater. Tentunya, kadang-kadang perubahan logo juga sering terjadi mengikuti perkembangan zaman. Di era post-modern seperti saat ini, semuanya serba cepat dan simpel. Maka, logo-logo juga berubah menjadi lebih simpel.


Tips Membuat Logo


Logo Pojok Seni misalnya, didesain sejak tahun 2012 silam. Meski belum pernah ada perubahan logo hingga saat ini, namun setidaknya Pojok Seni pernah mengubah warnanya. Di tahun 2012, Pojok Seni menggunakan logo berwarna hitam, dan di 2016 menggunakan logo bercorak batik.


logo pojok seni

Itu berarti tips pertama, warna dari logo cukup penting. Beberapa hal yang penting terkait pemilihan warna adalah mampu mewakili semangat, gagasan, dan nilai dari sebuah brand.


Logo berwujud ikan dianggap mewakili Pojok Seni yang ingin menjadi "wadah seni Nusantara". Ikan, adalah perwujudan "sesuatu" yang bisa datang mengunjungi pulau-pulau di Indonesia yang terpisah lautan.


Itu berarti, tips kedua adalah tujuan dari pembuatan logo adalah menyampaikan apa tujuan dari brand, komunitas, atau perusahaan.


Selain itu, logo juga mudah diaplikasikan ke mana saja. Dengan demikian, logo mesti ikonik dan akan mengingatkan pembaca atau pemirsanya ke brand tersebut. Misalnya, tanpa harus menuliskan brandnya, Anda pasti sudah langsung teringat logo di bawah ini adalah logo dari brand apa, bukan?


Hal itu menjadi tips ketiga, yakni unik, simpel, namun fleksibel. Ciri khas dari suatu logo juga mesti berbeda dengan logo lain. Itu yang dimaksud dengan unik. Sedangkan simpel berarti mudah diingat, dan desainnya tidak rumit. Terakhir, fleksibel yang berarti mudah diaplikasikan di mana saja.


Belajar dari Logo Kementerian PUPR

Logo KemenPUPR
Logo KemenPUPR

Siapa yang tidak tahu dengan logo di atas? Yah, itu adalah logo dari Kementerian PU, yang sekarang sudah bernama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) Republik Indonesia. Di saat sejumlah kementerian, BUMN, perusahaan swasta, dan brand-brand tertentu sudah bolak-balik berganti logo, tapi logo KemenPUPR ini tak lekang oleh waktu.


Logo ini didesain oleh Achmad Dzulfikar pada tahun 1966. Tepatnya, pada bulan Agustus 1966, Departemen Pekerjaan Umum (nomenklaturnya saat itu) mengadakan sayembara desain logo. Desain logo dari Achmad Dzulfikar memenangkan sayembara tersebut dan menjadi logo PU berdasar Keputusan Menteri PU No 150/A/KPTS/10 November 1966. 


Apa yang spesial dari logo KemenPUPR ini? Pertama, bentuknya seperti baling yang mencirikan alat-alat berat. Namun, kenapa daun dari baling-baling tersebut justru berbeda-beda?


Ternyata, Anda akan secara sekilas melihat huruf P dan U dari baling-baling tersebut. Dan hebatnya lagi, pencipta logo ini, Achmad Dzulfikar, menerapkan prinsip Gestalt untuk mendesain logo ini. Lihat bagaimana perhitungan setiap sudutnya dibangun secara detail untuk menjadikan persepsi yang melihatnya, seakan melihat semua komponen (pola, kemiripan, warna, hubungan, dan lain-lain) menjadi suatu kesatuan.


Logo PUPR


Untuk lebih jelas tentang teori gestalt, Anda bisa melihat gambar di bawah ini. Bukankah, hutan, simpanse, dan harimau bisa dilihat dalam suatu kesatuan yang apik?


Prinsip Gestalt


Terpenting adalah logo PU ini terus bertahan hingga hari ini. Logo ini menjadi ikonik dan menjadi "wajah" dari KemenPUPR. Warna kuningnya yang ditujukan untuk mewakili keagungan, kedewasaan, dan kemakmuran, ternyata juga sangat tepat untuk menjadi warna dari KemenPUPR. Yah, kita semua tahu bahwa warna kuning adalah warna yang cukup dominan pada alat-alat berat, bukan?


Dan semua itu, baik prinsip, pemilihan warna, pemilihan bentuk, dan penerapannya dilakukan di tahun 1966. Anda tahu bagaimana logo ikonik dari Apple di tahun 1976, alias 10 tahun setelah logo Kementerian PU ini diciptakan? Yah, masih seperti di bawah ini.


Logo Apple


Dan ketika logo Apple sudah berubah berkali-kali, hingga menjadi seperti saat ini, Logo PU masih tetap menggunakan logo berusia hampir 6 dekade tersebut. Satu hal visioner yang mungkin akan membuat para desainer logo berdecak kagum. Wajar saja bila akhirnya di tahun 2014, Achmad Dzulfikar mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh Menteri Pekerjaan Umum saat itu, Djoko Kirmanto atas jasanya menciptakan logo yang ikonik tersebut.


Ikuti PojokSeni.com di Google News

Ads