Entrainment dan Musik Dalam Tubuh: Penjelasan Saintifik atas "Kesurupan" Musikal -->
close
Adhyra Irianto
06 August 2022, 8/06/2022 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-21T01:08:02Z
ArtikelBudaya

Entrainment dan Musik Dalam Tubuh: Penjelasan Saintifik atas "Kesurupan" Musikal

Advertisement
Entrainment adalah

pojokseni.com - Kesurupan (trance) tentunya bukan hal yang aneh bagi orang Indonesia. Sudah sering terjadi fenomena kesurupan atau kehilangan kendali diri bahkan kesurupan massal terjadi di Indonesia. Bahkan, ada juga yang menjadi tontonan, seperti yang kita lihat di sejumlah seni tradisi Indonesia. Karena melibatkan "makhluk halus" maka dukun-dukun atau paranormal juga sering terlibat dalam pertunjukan seni tradisional tersebut. Namun, artikel kali ini tidak akan membahas tentang fenomena kesurupan umumnya. Karena ini adalah website tentang kesenian, maka fenomena kesurupan yang akan dibahas adalah kesurupan yang terkait dengan musik. Atau, musik yang memancing seseorang atau lebih untuk menjadi kesurupan.


Fenomena ketika seseorang masuk dalam fase transedental, yang terjadi karena musik tertentu yang diperdengarkan pada partisipan kami sebut dengan nama "kesurupan musikal". Frasa kesurupan musikal dipilih untuk membedakan dengan kesurupan yang terjadi "tanpa musik", yang mungkin sering Anda lihat di lingkungan sosial Anda. Dalam kajian biomusikologi, salah satu mekanisme yang berperan dalam kesurupan musikal adalah entrainment.


Entrainment adalah fenomena ketika suatu aliran "menangkap" aliran lain dan keduanya menyatu menjadi satu aliran yang tersinkronisasi. Dalam meteorologi, entrainment terjadi ketika aliran turbulen di atmosfer menangkap aliran non-turbulen dan menyatukannya, seperti pada pembentukan siklon tropis.


Dalam musik, entrainment terjadi ketika ritme musik di luar tubuh tersinkronisasi dengan ritme biologis di dalam tubuh. Hasilnya, tubuh bergerak mengikuti irama, kadang tanpa kita sadari. Dalam istilah biomusikologi, entrainment adalah fenomena keterbawaan tubuh terhadap bunyi musik di luar tubuh. Musik di sini tidak hanya berarti lagu dengan melodi dan beat, tetapi juga ritme apa pun yang bisa ditangkap tubuh. Entrainment tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi juga pada benda dan hewan.


Tambahan tentang biomusikologi, dalam ilmu musik dan psikologi, ada pembahasan tentang biomusikologi. Biomusikologi menjadi landasan biologis dari pengalaman musik. Intinya, ada musik atau lagu yang membuat tubuh kita terbawa. Entrainment (dalam biomusikologi) disebut sebagai fenomena keterbawaan tubuh terhadap bunyi musik di luar tubuhnya. Musik yang dimaksud berarti lebih luas, tidak hanya irama yang terdengar sebagai audio, memiliki ritme, beat, dan melodi seperti lagu-lagu yang sering kita dengarkan. Tapi, bisa juga berasal dari dalam "tubuh" alam itu sendiri. Atau, bioritme yang ada di dalam tubuh setiap makhluk hidup.


Keterangan yang cukup jelas tentang fenomena keterbawaan ini dibahas oleh Martin Clayton dkk dalam jurnal berjudul In Time With the Music: The Concept of Entrainment and Its Significance for Ethnomusicology yang diterbitkan tahun 2016 lalu. Dalam jurnal tersebut, Martin Clayton menyebut bahwa entrainment merupakan kondisi di mana tubuh dan musik saling meng-singkronkan diri (synchronizing). Tapi ternyata, tidak hanya manusia, tapi terjadi pada apapun baik benda (yang mampu menghasilkan bunyi) maupun makhluk hidup. Anda bisa membaca jurnal Martin Clayton tersebut di Perpustakaan Pojok Seni.


Misalnya, ada jam dinding dengan bandul yang berbunyi dengan ketukan tertentu berada di toko jam dalam jumlah yang banyak. Tentunya, Anda bisa mendengarkan bunyi dari puluhan bahkan ratusan jam dinding yang berbunyi tersebut. Di awal kita mendengarkannya, maka akan terdengar ratusan bunyi yang saling bertabrakan, alias tidak singkron. Namun, seiring berjalannya waktu, telinga kita akan mulai menyadari bahwa ketukan bandul di jam tersebut akan semakin tersingkronkan, dan menjadi suatu bunyi dengan ritme tertentu.


Andrew Rose dkk, pada tahun 2016 melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa entrainment juga terjadi pada hewan. Hewan yang menjadi subjek penelitiannya adalah anjing laut, yang diperdengarkan beat atau ritme musik tertentu dalam jangka waktu tertentu pula. Kemudian, anjing laut ini akan mulai mengangguk mengikuti ketukan musik tersebut. Karena ketukannya teratur, maka anggukan anjing laut ini juga terasa sangat teratur. Namun, ketika beat tersebut diubah, tidak butuh waktu lama untuk tubuh anjing laut tersebut menyesuaikan anggukannya dengan ketukan tersebut.


Bukti Langsung dari Bali: Apa yang Terjadi di Dalam Otak Saat Kesurupan


Kalau contoh jam dinding dan anjing laut menjelaskan entrainment dalam bentuknya yang paling dasar, bukti yang lebih dekat dengan kesurupan sesungguhnya justru datang dari penelitian yang dilakukan langsung di Bali. Kawai, Honda, Nishina, Yagi, dan Oohashi (2017), dalam jurnal Neuroreport, merekam elektroensefalogram (EEG) dari enam belas pria Bali yang menjadi pemeran dalam drama ritual Calonarang, pertunjukan di mana sejumlah pemain bertarung melawan sosok penyihir, dan sebagian dari mereka biasa memasuki kondisi kesurupan di tengah adegan pertarungan tanpa mengonsumsi alkohol atau zat psikoaktif apa pun.


Dari dua belas data yang berhasil dianalisis, tujuh peserta memang jatuh ke kondisi kesurupan (ditandai dengan tatapan kosong, kekakuan otot, hingga tubuh yang bergetar seperti kejang), sementara lima peserta lain melakukan gerakan yang sama persis tapi tidak menunjukkan tanda-tanda kesurupan sama sekali. Semua peserta yang kesurupan mengalami amnesia total atas kejadian selama trance berlangsung, dengan durasi rata-rata sekitar delapan setengah menit. Beberapa dari mereka bahkan menusukkan keris ke tubuh sendiri tanpa menunjukkan rasa sakit.


Hasil rekaman EEG-nya jelas: pada kelompok yang kesurupan, terjadi peningkatan signifikan pada gelombang otak theta, alpha, dan beta selama fase trance dibandingkan sebelum dan sesudahnya. Perubahan tersebut justru sama sekali tidak terjadi pada kelompok kontrol yang melakukan gerakan serupa tapi tidak kesurupan. Studi ini menduga peningkatan gelombang alpha berkaitan dengan aktivasi struktur otak bagian dalam yang berhubungan dengan sistem penghargaan (reward system) sekaligus menurunnya aktivitas korteks, kombinasi yang bisa menjelaskan kenapa kesadaran dan ingatan seseorang seolah "menghilang" saat kesurupan.


Studi ini penting karena dua alasan. Pertama, ia dilakukan langsung di lapangan, pada ritual sungguhan, bukan simulasi laboratorium. Kedua, ia menunjukkan bahwa kesurupan memang punya jejak neurofisiologis yang bisa diukur. Ini membantah bahwa "kesurupan" hanya sekadar sugesti psikologis atau permainan peran budaya semata.


Batas Entrainment: Kenapa Ritme Saja Tidak Cukup


Namun demikian, entrainment hanya sebagai pintu masuk, dan tentu saja belum cukup menjelaskan kesurupan sepenuhnya. Gilbert Rouget, etnomusikolog Prancis, dalam bukunya yang menjadi rujukan utama studi musik dan trance, Music and Trance: A Theory of the Relations Between Music and Possession (1985), justru menolak keras teori yang menyebut efek neurofisiologis dari drum atau ritme musik secara langsung menyebabkan trance. Menurutnya, efek fisiologis dan emosional musik tidak bisa dipisahkan dari sistem makna dan pola perilaku kolektif yang berlaku di suatu budaya. Dengan kata lain, tidak ada hukum universal yang menghubungkan musik dan trance; hubungan itu selalu bergantung pada konteks budaya tempat ritual berlangsung.


Rouget juga membedakan dua kondisi yang sering tertukar: ecstasy dan trance. Ecstasy adalah kondisi gairah rendah yang dicapai lewat kesunyian dan ketidakbergerakan setelah deprivasi sensorik. Sebaliknya, trance kesurupan (possession trance) justru terjadi lewat gerakan, kebersamaan dengan orang lain, dan suara keras yang menyebabkan stimulasi sensorik berlebih. Kuda lumping, dengan gamelan yang bertalu-talu dan penari yang bergerak di tengah kerumunan (sama seperti drama Calonarang di Bali yang dibahas di atas) jelas masuk kategori kedua ini.


Artinya, entrainment adalah mekanisme fisiologis yang diperlukan, tubuh memang menyerap dan menyinkronkan diri dengan ritme di luarnya, dan studi EEG di Bali menunjukkan itu bukan cuma metafora. Tapi mekanisme itu sendiri belum cukup untuk menjelaskan kenapa sinkronisasi ringan (jari mengetuk mengikuti lagu) bisa berkembang menjadi kehilangan kendali penuh seperti pada kesurupan. Untuk itu, kita perlu melihat faktor-faktor lain yang bekerja bersamaan dengan musik.


Faktor Non-Musikal yang Turut Berperan


Dalam banyak ritual, musik hadir bersamaan dengan faktor-faktor fisiologis dan psikososial lain. Secara fisiologis, tarian yang panjang dan intens dapat menyebabkan hiperventilasi, mempercepat kelelahan, dan memudahkan disosiasi. Gerakan berputar-putar mengganggu keseimbangan tubuh dan menimbulkan pusing, hal yang sering dialami penari sebagai "tanda" akan terjadinya trance. Deprivasi sensorik atau justru banjir sensorik (lewat dupa, nyanyian, tepuk tangan, cahaya berkelap-kelip) juga menjadi teknik umum untuk memasuki trance ritual.


Secara psikososial, ekspektasi kolektif memainkan peran besar. Ketika seorang penari sudah tahu dan percaya bahwa ia akan kesurupan (karena itu bagian dari skrip budaya) kepercayaan itu sendiri memudahkan trance terjadi. Suasana yang permisif, kostum, topeng, kegembiraan penonton, serta kehadiran penari senior yang sudah lebih dulu trance sebagai model perilaku, semuanya berkontribusi.


Dengan kata lain, musik menyediakan ritme yang diserap tubuh lewat entrainment. Tetapi konteks ritual (kepercayaan, ekspektasi sosial, dan tubuh yang sudah lelah atau terengah-engah) adalah yang mengantarkan sinkronisasi ritmis itu menjadi kehilangan kendali penuh.


Dalam kondisi ringan, entrainment membuat kita mengetuk jari atau bergoyang mengikuti irama. Dalam kondisi yang lebih berat, ketika ritme musik bertemu dengan tubuh yang lelah, kesadaran yang terbuka, dan kerangka budaya yang mendukung, seseorang dapat masuk ke kondisi trance.


Musik bukanlah "penguasa" yang mengambil alih tubuh secara sepihak. Musik hanya salah satu elemen dalam jaringan kompleks yang melibatkan fisiologi, psikologi, dan budaya. Entrainment memberi penjelasan saintifik tentang bagaimana tubuh beresonansi dengan ritme, tetapi pengalaman kesurupan musikal jauh lebih kompleks daripada sekadar sinkronisasi.